Showing posts with label birokrasi. Show all posts
Showing posts with label birokrasi. Show all posts

Tuesday, August 28, 2007

hidup segan mati ogah

saya cuma bisa nulis begini, kok belum (nggak) ada aturan jelas di dari dinas pendidikan di batam berapa maksimal sebuah sekolah menerima murid baru. maaf, saya memang mengesampingkan orangtua calon siswa yang pasti ingin agar anaknya masuk sekolah negeri.

mengapa saya ingin bertanya, karena banyak sekolah swasta di batam yang hidup segan mati pun ogah. bahkan ada sebuah smp yang memiliki cuma seorang murid baru. bisa anda bayangkan? salah satu penyebabnya ya itu tadi, sekolah negeri berlomba-lomba untuk menerima siswa sebanyak-banyaknya. sekolah swasta tak lagi kebagian murid.

sebuah sekolah yang saya tahu, meminta kepada orangtua calon siswa kalau memang bersedia membangun gedung dan membayar guru, silakan menyekolahkan anaknya. jika sekolah negeri itu dipaksa menerima calon siswa yang ada, jelas tak nampung. dan orangtua bersedia, jadi jangan heran kalau siswa di sekolah itu harusnya bebas duit sekolah lantaran turun dana bos (bantuan operasional sekolah), masih tetap membayar juga.

seorang kepala sekolah smp swasta teman saya pernah bilang seperti ini, "kalau memang sekolah swasta nggak dipedulikan, mungkin saya sekat-sekat saja menjadi kos-kosan." menurut perhitungan saya, memang akan lebih menguntungkan sebagai kontrakan daripada sekolah. kalau sudah begini, tanya kenapa?

penasaran? lanjut....

Monday, July 30, 2007

mau aman, lewat sini aja

ingin melenggang masuk kota batam tanpa harus sibuk ditanya petugas perdaduk? ini pengalaman yang beberapa kali saya alami sendiri, mungkin juga anda. begitu gampangnya, begitu berbeda dengan apa yang biasa ditulis di media.

ya, dari media kita tahu batam menerapkan perdaduk, yang datang tanpa ktp batam, sudahlah alamatnya bakal dibalikin lagi. daripada nanti bikin sesak saja pulau ini (gitu kali, ya?). nah, yang begini nih, hanya ada di pelabuhan. oh, ya, saya pertama ke batam memang lewat pelabuhan sekupang, naik kapal pelni dari jakarta. rasanya campur aduk begitu kapal berlabuh. antre lama, barulah masuk ke ruangan pemeriksaan.

oalah, ditanya ktp batam. jangankan ktpnya, bentuknya saja belum pernah tahu. toh nggak ada gunanya bilang ke batam mau nengok sodara, ke batam mau kerja sungguh-sungguh sebagai wujud bhakti kepada orangtua, ke batam mau nyari modal buat kawin, atau ke batam mau merampok. intinya, saya ditahan, masuk ke kamar-kamar yang dilengkapi kasur.

bingung, akhirnya ingat kalau malu bertanya sesat di penampungan. pas ada waktu, iseng-iseng ngobrol sama seseorang (silakan tebak siapa dan apa pekerjaan ini orang, sepertinya tebakan anda betul). negosiasi, 50 ribu pindah saku, saya pun keluar dari penampungan sementara lalu pucuk-pucuk pohon pun menyambut, "selamat datang perantau muda."....

nah, pas udah punya duit dikit, bergaya dikit. pulang ke jawa, lalu balik lagi ke batam pinginnya naik pesawat. kalau saat itu thukul arwana sudah terkenal seperti sekarang ini, pasti saya dibilang katrok, ndeso, kampungan, udik, atau apa sajalah. artinya saya kudu lewat bandara. sungguh, uenak tenan. nggak ada yang nanya mana ktp batam. mau coba?

penasaran? lanjut....

ya beginilah template pemberian | Elque 2007