Thursday, July 26, 2007

syaratnya minimal 7 tahun

pemerintah kan sudah bilang, silakan menyekolahkan anak anda ke sd negeri jika umur sang anak minimal 7 tahun dan memiliki ijazah tk. di batam begitu juga. cuma, ya sekali lagi ini soal pendidikan, praktiknya di lapangan tak harus sama dengan lembaran keputusan tadi.

biar bisa masuk negeri, bisa memilih beberapa cara. manipulasi akte kelahiran atau berdekat-dekatan dengan kepala sekolah sd negeri yang segera membuka penerimaan siswa baru. sejumlah teman saya di tanjungpiayu memilih cara kedua. pokoknya rajin saja menyambangi kepala sekolah tempat kita ingin menitipkan anak.

yang saya kurang ngeh ya soal titip tadi. apakah sekadar bilang, "buk, pak, nitip anak saya sekolah di sini, dong. kan kita udah berteman," atau kudu ditambahin, "oh, ya, pak, buk, kemarin saya nitip amplop buat anda lewat pembantu saat bapak, ibu pergi keluar rumah. sudah diterijma kan, pak, buk?".

temanku cuma njawab begini, "ah, nanti kalau kamu mau menyekolahkan anakmu ke sd dan usianyan kurang dari 7 tahun kan tahu sendiri."

masalahnya, ada orangtua calon siswa yang umur anaknya 6,9 atau 6,10 tahun ditolak oleh sebuah sd negeri karena lokalnya nggak ada lagi. (oh, ya, calon siswa di bawah 7 tahun bisa diterima jika memang lokalnya masih ada). begitu tahu ada siswa yang usianya di bawah usia anaknya bisa masuk, tentu bertanya-tanya. dan tak mungkin hanya bertanya kepada arumput yang bergoyang. karena maaf, ia bukan ebiet g ade...

penasaran? lanjut....

sekali negeri, tetap negeri

saya baca koran kira-kira dua minggu lalu, kabarnya orangtua calon siswa baru untuk sd di batam tengah dilanda kebingungan. kok? iya nih, ternyata jumlah sekolah yang ada di batam nggak cukup buat nampung siswa baru. jumlah calon siswa yang mau masuk sd mencapai 13.000, tetapi jumlah kursi yang tersedia cuma 8.000. terus yang 5.000 ke mana?

ada saran bagus dari kepala dinas pendidikan setempat, bagaimana kalau yang tak tertampung di negeri, ya yang 5.000 tadi masuk saja ke swasta? masuk akal, memang. sayang di zaman serba susah ini duit Rp50 saja cukup berarti. artinya orangtua tentu memilih agar anak anak mereka bisa sekolah negeri. yang gratis, yang (kabarnya sih) lebih bagus mutunya, yang tak ada iuran ini itu dan sebagainya.

lalu saya baca berita lanjutan, orangtua demo ke dinas pendidikan. pokoknya ruwet setiap kali penerimaan siswa baru. kok memecahkan masalah seperti ini susah, ya? padahal setiap tahu selalu saja terjadi. ya bisalah kita bicara soal banjir kiriman jakarta, kan setiap tahun terjadi. mbok ya ada sedikit perencanaan. akhirnya memang banyak cara untuk tetap menyekolahkan anak ke negeri.

salah satu contohnya, kepala sekolah yang hanya punya dua lokal lalu menawarkan kepada orangtua calon siswa, kalau memang bersedia membangun gedung sendiri dan membayar gaji guru ya silakan saja. dan..... orangtua calon siswa baru setuju. ini benar-benar terjadi di tanjungpiayu, sei beduk.

nah, kalo sudah begini harap orangtua siswa baru jangan lagi protes. sekolah negeri kan dapat bos, kok masih narik duit lagi? lupa ya, kan buat bangun gedung dan bayar gaji guru tadi?.......

penasaran? lanjut....

Sunday, July 8, 2007

maaf ijazah anda nggak laku

pulang dari batam karena liburan kerja, pas mau balik lagi ada kawan atau saudara nitipin anaknya agar ikut ke batam biar bisa kerja? pikir masak-masak bung!

batam memang harum di luar, lihatlah di teve dan koran, investor datang, batam merih adipura dan sebagainya. bohongkah itu? tidak! cuma.... betapa susahnya mendapatkan pekerjaan di batam sekarang (baca apalagi nanti). jangan terpesona dengan kawan yang memiliki ijazah sma atau sarjana. buanyak bung sarjana yang ngojek demi mempertahankan hidup tetapi ngakunya ke rumah kerja pt karena malu sudah pergi ke batam pakai duit hasil penjualan sapi.

bagi aku sih lebih nyaman ngajak kawan atau siapa saja yang ingin merantau ke batam dengan keahlian sederhana. bisa jual jamu gendong, bisa buat bakso, bisa buat peuyeum (tape), tempe, masak seafood dan sejenisnya. percayalah orang-orang jenis ini nggak butuh wawancara. tinggal nyari tempat (jangan bilang ini pekerjaan mudah), beli peralatan lalu let's go.

jangan anggap rendah mbok penjual jamu di atas. dengan keluguannya, ia justru bisa pulang setiap tiga bulan sekali ke kampungnya (pas aku nanya ia berasal dari jawa tengah) pakai pesawat. pernah juga nyoba nanya seorang penjual bakso tusuk yang keliling pakai sepeda butut, ternyata bisa pulang setiap enam bulan sekali. tentu saja dengan membawa kebanggan di kantongnya, ia bisa membelikan televisi baru buat emaknya, membelikan sepasang kambing untuk diternak atau oleh-oleh lain.

penasaran? lanjut....

Saturday, July 7, 2007

jangan ingin mati di batam

bukan lantaran jauh dari keluarga yang masih hidup jika mati dikuburkan di batam. juga bukan karena kuburan bisa menjadi taman nan indah bagi pasangan mesum di batam yang merasa tak mendapatkan taman kota yang uenak untuk bercumbu.

menurut aku alasannya cuma satu, berat di ongkos. mari kita bicara angka-angka, ongkos mengantar jenazah dari rumah ke "rumah masa depan" untuk jarak sekitar 6 kilometer saja rp150 ribu, ongkos penggali lubang kubur untuk dewasa rp250 ribu untuk anak-anak lebih murah rp100 ribu; ongkos beli kafan, papan penutup lubang kubur dan nisan kayu rp350 ribu (mau nisan dari batu? harganya rp250 ribu sepasang).

mungkin anda berpikir cerdas, bagaimana kalau penggalian lubang kubur dilakukan sendiri oleh keluarga korban yang meninggal. ups nanti dulu, sebab yang beginian nih udah hak paten pengurus kuburan. dia pasti bilang gini, uang penggalian itu bukan semua untuk kami yang bahu-membahu menggali kubur, tetapi yang sekian persen untuk perawatan. biar kuburan keluarga saudara tidak banyak rumput, gak ada sampah dan sebagainya.

bagi taipan-taipan kaya, mungkin gak masalah. tetapi bagi pengojek, buruh pt yang hanya dikasih jatah 3 bulan aja menikmati gaji sebuah perusahaan atau pengangguran yang tiba-tiba sakit karena cuma mampu makan sehari sekali?

penasaran? lanjut....

ya beginilah template pemberian | Elque 2007