Friday, August 24, 2007

bekas, seken, atau second?

anda bukan warga batam? mohon maaf, di papan nama pasar ini pasti ada yang salah, apalagi jika dikaitkan dengan ejaan yang disempurnakan, juga baku dan tak baku. ya beginilah batam, untuk menyebut barang bekas atau second hand, warga lebih suka menggunakan istilah seken. atau ini semacam upaya menciptakan kata baku khas batam, entahlah...

tapi jangan mencibir dahulu, justru dari tempat seperti ini sebuah rumah di batam bisa melengkapi diri dengan perabotan. bekas sih, tetapi kualitasnya masih bagus. apalagi kebanyakan gelontoran dari singapura.

penasaran? lanjut....

rumah kenangan

bagi anda, foto ini pasti tak membuat mata lebih cerah. tetapi bagi bekas pemiliknya, bangunan tak beraturan ini pernah memberikan kehangatan saat angin dan hujan deras melahap jalanan batam, atau berteduh dari panas matahari yang meranggaskan pepohonan batam karena kurang air.

ya, ini contoh rumah liar yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya yang kini entah pulang kampung, atau membeli rumah baru. jelas tidak mempesona. yah, beginilah nasib rumah liar tanpa tuan.

penasaran? lanjut....

elo elo, gue gue

sungguh, foto ini bukan rekayasa. saya tergoda sekaligus khawatir, tergoda karena tak juga dibenahi pemiliknya, khawatir kalau pas lewat di bawahnya tiba-tiba kacanya lepas dan.....

batam memang mudah membuat orang terlalu sibuk atau (maaf) menyibukkan diri sendiri. elo elo, gue gue, agaknya penyakit ini mulai menghinggapi pribadi warga batam. orang lain tentu tak akan pernah peduli jika sikap tadi berkaitan dengan hobi nonton film atau lagu kesukaan. elo mau suka lagunya elvi sukaesih, gue doyan lagunya sepultura, biarin aja. gak berpengaruh. bahkan hingga elvie sukaesih nggak lagi tenar, its no problem.

tapi kalau yang beginian tetap keukeuh pada elo elo, gue gue, terus bagaimana lagi?

penasaran? lanjut....

lebih sulit mempertahankan

piala adipura yang tahun ini diraih batam bukan berarti pelosok-pelosoknya bersih. itulah yang selalu marak ditanyakan warga, baik melalui surat pembaca, interasi di radio atau juga perbincangan kedai kopi.

penilaian adipura hanya pada titik-titik tertentu. toh begitu, agaknya warga belum juga tergelitik untuk sekadar membersihkan got depan rumahnya. apalagi got di jalanan. lebih suka mengganti uang daripada ikut kerja bakti, benar, nggak? foto ini saya dapatkan dari depan sebuah sekolah cukup punya nama di batam. sebenarnya dua minggu lalu saya lihat, nah kemarin kembali saya lihat kok sampah yang ada belum dibersihkan. saat ini hujan lagi senang-senangnya diguyur hujan.

yang pasti, kita, warga batam, masih ingin mendekap erat piala adipura tahun mendatang. pertanyaannya, bisakah kita mempertahankannya bila budaya kotor masih menjadi bagian dari diri kita? asal tahu saja, jika ingin mempertahankan titik penilaian akan ditambah.

penasaran? lanjut....

ya beginilah template pemberian | Elque 2007