Wednesday, August 29, 2007

jadilah bidan

"melayang tinggi menuju angkasa, meraih segala..... jadilah bintang" tentu anda ingat betul jingle program kontes dangdut indonesia di sebuah televisi swasta itu. tetapi bagia sebagian warga batam, kalimat jadilah bintang kerap diplesetkan menjadi "jadilah bidan"

mengapa harus bidan. ya, bidan adalah satu profesi mulia sekaligus menjanjikan di batam. biasanya, kalau pemerintah menyediakan lahan kavling untuk warga yang digusur, pasti ada bidan yang membeli lahan di sana. cukuplah untuk mendirikan bangunan seluas 6x10 meter. begitu warga mulai membangun rumahnya, sang bidan pun mulai buka praktek.

lahan bidan memang tak pernah mati. apalagi batam menjadi tujuan para pencari kerja yang dapat dikatakan rata-rata berusia muda. ketika ia mendapatkan pekerjaan, bertemu dengan pasangan hatinya yang juga bekerja. apalagi? ya menikah. lalu punya anak. di tengah kondisi perekonomian yang sulit, bidan masih menjadi andalan untuk menangani proses persalinan. toh secara legal formal bidan memang diperbolehkan untuk membuka praktik.

tak jarang di sebuah permukiman terdapat lebih dari seorang bidan praktik. nyatanya memang sangat dibutuhkan, kok. dari segi grafik ekonomi sang bidan, coba pantau dari waktu ke waktu. nah, tak ada salahnya kan menjadi bidan?

penasaran? lanjut....

Tuesday, August 28, 2007

hidup segan mati ogah

saya cuma bisa nulis begini, kok belum (nggak) ada aturan jelas di dari dinas pendidikan di batam berapa maksimal sebuah sekolah menerima murid baru. maaf, saya memang mengesampingkan orangtua calon siswa yang pasti ingin agar anaknya masuk sekolah negeri.

mengapa saya ingin bertanya, karena banyak sekolah swasta di batam yang hidup segan mati pun ogah. bahkan ada sebuah smp yang memiliki cuma seorang murid baru. bisa anda bayangkan? salah satu penyebabnya ya itu tadi, sekolah negeri berlomba-lomba untuk menerima siswa sebanyak-banyaknya. sekolah swasta tak lagi kebagian murid.

sebuah sekolah yang saya tahu, meminta kepada orangtua calon siswa kalau memang bersedia membangun gedung dan membayar guru, silakan menyekolahkan anaknya. jika sekolah negeri itu dipaksa menerima calon siswa yang ada, jelas tak nampung. dan orangtua bersedia, jadi jangan heran kalau siswa di sekolah itu harusnya bebas duit sekolah lantaran turun dana bos (bantuan operasional sekolah), masih tetap membayar juga.

seorang kepala sekolah smp swasta teman saya pernah bilang seperti ini, "kalau memang sekolah swasta nggak dipedulikan, mungkin saya sekat-sekat saja menjadi kos-kosan." menurut perhitungan saya, memang akan lebih menguntungkan sebagai kontrakan daripada sekolah. kalau sudah begini, tanya kenapa?

penasaran? lanjut....

kalau dikalikan sekian, berapa?

ini soal pendidikan. beberapa sekolah negeri di batam masih menerapkan kelas sore karena membludaknya jumlah siswa baru. dengan alasan bisa menampung calon siswa di sekolah negeri, yang kabarnya biaya sekolahnya nggak tinggi-tinggi amat, berapa lokal pun oke.

sayang, ada yang terlupakan. saya nggak ingin menyebutkan berapa standar satu jam pelajaran untuk smp atau sma (yang saya perhatikan di sini sebuah smp negeri), yang saya perhatikan justru pengurangan jam pelajaran tadi. pernah saya memelototi jam tangan, ternyata setiap satu jam pelajaran berkurang lima menit.

ini (mungkin) harus dilakukan oleh sekolah bersangkutan karena jika jamnya dibuat standar anak didiknya bisa pulang malam hari atau paling tidak habis maghrib. okelah lima menit, kalau satu hari ada lima pelajaran, artinya sudah 25 menit. bisa untuk menyampaikan materi singkat. kalau sekian hari, sekian minggu atau sekian bulan?

penasaran? lanjut....

setumpuk ijazah di sudut ruang

awalnya hanya ingin nanya bagaimana pindah sekolah. ceritanya, anak tetangga minta tolong agar saya nanya ke sebuah sma negeri di batam, karena anak pertamanya yang baru masuk sma bulan juli kemarin nggak kerasan di tanjungpinang.

saya ke sebuah sma negeri. syukur akhirnya ketemu kepala sekolahnya. intinya anak tetangga saya tadi nggak bisa pindah karena berbagai alasan, pertama, tak ada lagi kursi di ruang kelas satu yang baru. "maaf, satu ruang saja muridnya 45 orang, bagaimana mau ditambah mas? kasihan anaknya nanti" begitu kata pak kepala sekolah. kedua, syarat untuk pindah kan harus ada rapornya sedangkan anak tetangga saya belum satu semester di sebuah sma di tanjungpinang.

ya sudah, mau bagaimana lagi...

nah, yang menarik justru saat saya melihat tumpukan kertas ditaruh dalam kardus bekas apa saya kurang paham. kalau hanya kertas sih tak masalah. kata kepala sekolah, itu ijazah yang tak diambil siswa yang sudah lulus. jumlahnya puluhan setiap tahun kelulusan.

pasti anda bertanya, buat apa sekolah dan lulus jika ijazahnya nggak diambil, sama dengan apa yang ada di otak saya. mau tahu jawaban kepala sekolah tadi, katanya banyak orangtua yang kurang peduli dengan ijazah anaknya. memang sih, untuk mengambil ijazah harus ada syaratnya juga, entah melunasi biaya ujian, spp yang nunggak atau administrasi lain.

rupanya, sebelum benar-benar lulus dan menggenggam ijazah di tangan, sudah ada siswa yang melamar pekerjaan hanya dengan surat keterangan dari sekolah bahwa yang bersangkutan memang lulus sedang menunggu ijazah aslinya. begitu diterima, ia pun berpikir ah buat apa ijazah toh saya sudah bekerja. sedangkan orangtuanya mungkin sudah lupa apakah ia pernah menyekolahkan anaknya, seperti ia lupa kewajibannya mengambil ijazah anaknya.

saya nanya lagi, apa hal itu juga terjadi si sekolah negeri lain. kepala sekolah mempersilakan saya mencari informasi karena ia yakin apa yang terjadi di sekolah yang dipimpinnya juga bakal saya temukan di sekolah lain. ya sudah, mau apa lagi?...

penasaran? lanjut....

ya beginilah template pemberian | Elque 2007